Weekend Getaway: Situs Megalitikum Gunung Padang

Berawal dari keresahan khalayak anak rantau yang bingung mau menghabiskan akhir pekan di mana, tapi kalau mager di kosan takut dirazia, tercetus ide impulsif untuk jalan-jalan ke Cianjur-Sukabumi. Saya langsung mengiyakan ajakan ini walaupun belum tahu mau ke mana saja nantinya. Mungkin karena sedang sakau ngetrip.

Tujuan pertama kami adalah Situs Megalitikum Gunung Padang. Letaknya di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Perjalanan kami mulai jam 10 malam melalui rute Puncak – Cianjur kota – Warungkondang – Lampegan dan tiba di lokasi sekitar pukul 2 pagi.

Sebenarnya untuk menuju Gunung Padang bisa dengan menggunakan kereta api rute Bogor-Sukabumi-Cianjur dan turun di stasiun Lampegan kemudian dianjutkan naik ojek. Namun kami memutuskan naik kendaraan pribadi dengan alasan kenyamanan dan mengejar sunrise.

Kami menginap di rumah Pak Nanang, juru pelihara resmi dari pemerintah sekaligus menjadi pemandu esklusif kami. Rumahnya terletak persis di bawah tangga keluar situs. Setelah beristirahat sebentar, jam 5 pagi kami mulai pendakian ke puncak situs. Pak Nanang dengan semangat menjelaskan tentang 5 undukan, 5 teras, 5 penjuru arah dan 5 gunung-bukit yang mengelilingi situs gunung padang, dan kebetulan rombongan kami juga berlima! Suatu kebetuan dan telah digariskan Yang Maha Kuasa, kata Pak Nanang. Gak tau mesti bereaksi amazed atau guyon saat itu :)

Pak Nanang

Saya bersyukur karena pagi itu cerah, matahari tersingkap dengan indahnya, kabut-kabut tipis akhirnya memudar dan dari kejauhan terlihat Gunung Gede Pangrango berdiri dengan gagahnya. Luar biasa sekali pemandangan saat itu. Rasanya lelah dan kantuk setelah perjalanan tengah malam sebelumnya terbayar juga.

Setelah terang, beberapa papan peringtan mulai terlihat. Seperti dilarang makan nasi dan memukul-mukul batu. Unik memang, tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari Pak Nanag saya bisa memahaminya. Banyak pengunjung yang datang sekaligus tamasya, teras bagian atas yang cukup datar dan dilapisi rumput tebal sangat menggugah selera pengunjung untuk piknik makan di sana. Sampah-sampah dibuang seenaknya walaupun sudah disediakan tempat sampah, rumput dan batu menjadi kotor sulit dibersihkan. Beberapa bekas sesaji dan semedi malam ini itu masih terlihat. Ada juga pengunjung yang kreatif, setelah mendapat penjelasan dari pemandu tentang batu-batu yang dipukul bisa berbunyi, maka sengan sigap mereka memukul-mukul semua batu. Padahal tidak semua batu bisa mengeluarkan suara seperti kendang. Dan tidak semua batu memiliki kondisi yang stabil. Bentuk batu-batu di sana kalau diperhatikan seperti dipahat/dibelah dengan pisau, persegi semua. Batu-batu di sana mudah untuk dibelah hanya dengan dilempar ke batu lainnya atau bahkan sekadar dipukul-pukul.

Teras Utama Situs Megalitikum Gunung Padang

Di puncak Gunung Padang terdapat dua pohon yang posisinya menyatu dan seperti simbol dua kelamin yang menyatu. Sedangkan di kaki bukit juga terdapat mata air yang tidak pernah kering, selalu jernih dan percaya atau tidak dapat menyembuhkan semua penyakit. Penjelasan dari Pak Nanang sangat membuka wawasan saya tentang sejarah dan kisah mistis. Di era modern ini ternyata masih banyak orang yang percaya terhadapat simbol-simbol alam, serta bagaimana cara mereka bersyukur atas alam.

Aktivitas lain yang bisa dilakukan di sekitar Gunung Padang adalah camping, foto narsis di kebun teh dan terowongan kereta api di desa sebelah, melihat proses pembuatan gula aren, serta wisata kuliner di Sukabumi. Perjalanan pulang ke Jakarta kami sempatkan juga untuk mencicipi sop duren di Cianjur, makan sate maranggi – ketan bakar di Sari Asih – Pacet, dan main-main di Kebun Raya Cibodas.

Sate Maranggi – Sari Asih

Dengan suguhan hijaunya pemandangan dan bebatuan yang unik, udara pegunungan yang segar serta keramahan Pak Nanang, saya merekomendasikan Situs Megalitikum ini sebagai destinasi trip – weekend getaway. Selamat jalan-jalan! :)

6 Comments


  1. // Reply

    bagusnya di sana sunrise atau sunset ya?

    pengen liat sunrise, tapi mikir2 lagi kalo harus berangkat malem atau ga ada tempat nginep yg deket.


    1. // Reply

      Billy, Kemarin cuma menikmati sunrise karena sore juga hujan terus. Dapet sunrise yang cakep dan pemandangan Gunung Gede yang megah. Kalau penginapan bisa di rumah-rumah penduduk sekitar. Aku nginep di rumah Pak Nanang karena bisa sekalian di-guide

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *