#BagaimanaMungkin bisa #PiyambakanTrip?

Tulisan ini agak basi tapi tetap hangat untuk dibaca

Nanath Nadia, seorang teman yang mewujudkan proyek perdana #PiyambakanTrip saya. Pertama kali bertemu Nanath tahun 2011 saat resepsi Tika & Rangga di Jogja. Desember tahun lalu Nanath & Dejul membuat sendiri resepsi yang unik di Bandung. Acaranya sungguh menyenangkan, bernuansa glamour, bercampur edgy dan superficial (ini saya sok tau aja sih :D). Banyak teman-teman online yang hadir, memberi ucapan selamat dan turut memeriahkan ranah twitter dengan hashtag #BagaimanaMungkin. Sepertinya Nanath belum bisa percaya kalau dirinya bisa menikah.

Di akhir acara resepsi, ada sedikit kemeriahan berupa seremonial pelemparan seikat kembang. Makin meriah karena tamu yang berhasil menangkap akan mendapatkan hadiah berupa tiket pulang pergi Jakarta-Singapura. Saya pun gak mau ketinggalan nyempil di belakang barisan pengharap tiket gratis. Alhamdulillah, seperti sudah direncanakan Tuhan saja, seikat kembang itu jatuh tepat di depan saya. Di sinilah #PiyambakanTrip dimulai.

Beberapa teman menganggap jalan-jalan ke Singapura itu hal biasa saja. Tapi bagi saya perjalanan ini akan sangat berbeda dari sekadar liburan yang pernah saya lakukan. Karena tercetus ide untuk solo traveling. Saya belum pernah jalan-jalan sendiri (piyambakan, dalam bahasa Jawa) ke luar negeri. Hitung-hitung untuk melatih ngomong bahasa inggris yang super cepat gaya singaporean. Tanpa banyak rencana perjalanan dan benar-benar ingin menikmati dari suasana kota.

Jam 4 subuh 1 Feb, taksi yang saya pesan sudah menunggu di depan gerbang kos. Penerbangan pertama pasti tepat waktu kan? Dan saya tidak ingin ditinggal pesawat karena telat. Di dalam taksi saya masih terkantuk-kantuk karena malam sebelumnya ada acara yang harus saya hadiri sampai tengah malam, dan sangat nanggung rasanya untuk tidur.

Ketika sampai di bandara, tidak begitu lama menunggu kemudian terdengar panggilan untuk masuk ke pesawat. Di dalam pesawat lebih banyak saya habiskan untuk tidur. Tak terasa sudah ada pengumuman sebentar lagi akan mendarat. Pagi itu AirAsia mendarat mulus 20 menit lebih awal dari jadwal seharusnya.

Sampai di gedung bandara ternyata BlackBerry XL yang sebelumnya sudah saya aktifkan fasilitas roaming internasional tidak bisa internetan, hanya bisa terima email & SMS saja. Agak lama saya di Changi mencoba mencari tahu apa yang salah dari BB saya. Saya pun menggunakan komputer berinternet gratis yang banyak tersebar di bandara mencoba mencocokkan setting BB dan mencoba mengontak @XLCare.

Setelah 1 jam tidak ada perubahan di BB dan tidak ada respon lanjutan dari @XLCare, saya memutuskan untuk menuju Chinatown, kawasan tempat saya menginap. Belum ada rencana hari itu akan ke mana, get lost and enjoy it! Itulah rencana saya.

Saya menginap di Beary Hostel, hostel unik yang mengambil tema teddy bear. Hostel ini berada tepat di sisi jalan besar Upper Cross St. Keluar dari pintu E stasiun MRT Chinatown kemudian berjalan kaki berlawanan arah kendaraan sekitar 100 m. Gampang dicari dan tepat di pusat keramaian.

Setelah menaruh tas di hostel, saya berkeliling Chinatown dengan berjalan kaki. Suasana imlek terasa di setiap sudut. Lampion raksasa berbentuk naga kuning melingkar sepanjang jalan South Bridge. Juga ketika menyusuri New Bridge Rd dan Eu Tong Sen Rd dipenuhi ornamen merah mulai dari replika kuil sampai ular naga panjang. Di Chinatown Point, pohon harapan yang tinggi diletakkan tepat di depan pintu masuk, pengunjung bisa menuliskan harapan tahun barunya dengan membayar 1 dollar dan gratis jeruk ponkam. Oh ya, di hostel juga disediakan jeruk ponkam dan fortune cookie gratis, boleh ambil sepuasnya.

Setelah mengunjungi Sri Mariamman Temple, saatnya untuk ibadah jumatan. Mudah untuk mencari masjid di Singapura, kebetulan di belakang hostel terdapat Masjid Jama’e. Ibadah Jumatan di masjid ini dimulai dengan khutbah pembukaan 30 menit sebelum adzan zuhur dan 30 menit khutbah utama setelahnya. Semua khutbah menggunakan bahasa hindi, karena ternyata masjid ini merupakan masjid komunitas keturunan India, yang sama sekali saya tidak paham apa yang disampaikan khatib.

Siang itu Singapura terik sekali. Selepas Jumatan dan ngemil buah di Temple St, saya memutuskan kembali ke hostel untuk tidur sebentar. Agak sore saya kembali menghabiskan jatah ezlink dengan mengendarai bus mengunjungi kampus top Singapura yaitu SMU dan SOTA. Sedikit membayangkan seandainya bisa kuliah di sana.

Setelah ngeceng norak dengan adik-adik mahasiswi SOTA, saya menyusuri Orchard Rd yang letaknya sejalan dengan kampus untuk mengunjungi Singapore Visitor Center. Di SVC kita bisa melakukan pemesanan tour, bertanya apapun tentang Singapura, atau sekadar pinjam kursi pijat gratis. Tapi tujuan saya selain itu adalah ingin menanyakan operator mitra roaming XL (M1). Dari petugas SVC saya disarankan untuk ke mengunjung kantor layanan M1 di basement Paragon Mall yang lokasinya masih di Orchard, berseberangan dengan Ion dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Dalam perjalanan menuju Paragon, saya menemukan banyak sekali wisatawan asal Indonesia sore itu. Sekadar duduk-duduk di taman sambil menikmati uncle ice cream, berfoto-foto atau baru keluar menenteng tas belanja. Karena sore itu adalah akhir pekan di awal bulan, Orchard menjadi ramai dengan tenaga kerja indonesia dan filipina yang akan mengirimkan gajinya.

Urusan saya dengan operator M1 sudah selesai, walaupun belum tuntas karena tetap tidak bisa internetan, saya memutuskan untuk pergi ke Clarke Quay dengan bus. Lagi-lagi tidak ada rencana, mengalir saja. Dan hanya jalan-jalan menikmati pergantian sore ke malam.

Agak malam waktunya kembali ke Chinatown. Malam di Chinatown lebih meriah dari kawasan lain saat itu. Pasar malam menyajikan makanan khas imlek, seperti aneka daging asap, dendeng babi, jeruk ponkam, manisan dan ada juga yang menjual kuih indonesia.
Ada panggung hiburan di Kreta Ayer Square, mulai dari drama, lagu, sulap, dan tari ditampilkan. Panggung hiburan ini letaknya di sebelah Budha Tooth Relic Temple & Museum yang jika malam sangat indah sekali dilihat karena dihiasi ratusan lampion.

Malam itu saya tutup dengan makan malam nasi ayam panggang di Chinatown Food Complex, karena hawker center saat itu sangat ramai. Harga makanan di hawker maupun di foodcourt mall tidak begitu jauh berbeda. Namun malam itu saya tidak beruntung karena mendapatkan rasa makanan sesuai dengan harganya yang amat murah.

Tulisan selanjutnya akan membahas perjalanan hari kedua dan ketiga saya di Singapura. Makin menarik dan sepertinya akan lebih panjang. Kuatkan hatimu, sob! 😀

14 Comments


    1. // Reply

      iya kak. *gaplok*
      *pemalaaass*


  1. // Reply

    hebat perjalanannya mas
    smoga itu mitos soal hasil lemparan bunga nganu ya ? ^^


    1. // Reply

      waduh. gak mikir ke arah sana om :))
      yang penting dapet hadiahnya :p


    1. // Reply

      udah dham. di postingan kedua. penasaran banget sih 😛


  2. // Reply

    Semoga setelah menang piyambakan trip, kembang itu memberi tuah untuk segera tidak piyambakan lagi.


    1. // Reply

      amen om. hahaha..
      tapi beneran deh solo traveling – #PiyambakanTrip itu nyenengin juga


  3. // Reply

    harapan ke depannya mau #piyambakantrip lagi atau #beduaantrip Le?


    1. // Reply

      kalau udah punya istri dan bolehin #PiyambakanTrip yah mau aja sih piyambakantrip lagi :p


  4. // Reply

    Ya ampun mas alle ternyata ya…
    Milih hotelnya yg konsep teddy bear… ternyata… *geleng2 :)


    1. // Reply

      iya. aku kan suka yang unyu-unyu 😛
      eh gak dink. sebenernya emang pengen nginep di chinatown, dan di beary hostel yg menurutku wothy harga & fasilitasnya. lokasi juga sih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *