Beruntung banget gabung di komunitas Kopdar Jakarta, saya dikasih kesempatan bareng KapanLagi.com buat nonton konser Simple Plan di Istora Senayan 17 Januari. Selain saya ada juga ratu kopdar Chika, alien nyasar Icit, JKT76 Chichi, eksiswan Umen dan gak ketinggalan bite lover Ifan yang ikutan nonton bareng.
Setelah melahap kaya toast traktiran Chika dan semuanya personil berkumpul di Fx, sekitar jam 8 kami mulai jalan kaki ke Istora, kendaraan tetap parkir di Fx. Sebenarnya jarak Fx ke Istora dekat, tapi lumayan bikin capek buat Mbak-mbak yang bersepatu tinggi (pengertian ke Chika & Chichi).
Ternyata sampai depan pintu masuk Istora masih sepi penonton, tapi kami tetap masuk biar ngadem. Panggung dibuka dengan penampilan Kotak, penonton mulai menyeruak. Kira-kira jam 9.30 Simple Plan mulai naik panggung, penonton histeris. Gimana gak histeris lagu pertama langsung Shut Up! bikin semangat jejingkrakan buat penonton yang di bagian festival, klo di tribune masih agak-agak jaim.

17 lagu, kalau tak salah hitung, dibawakan atraktif oleh semua personel Simple Plan. Pierre sang vocalis dan David sang bassis pinter banget menjalin komunikasi ke penonton. Bertanya apa kabar, melontarkan I love Indonesia, nyerempet nyepik dan juga mengajak penonton terus bergerak. Walaupun venue terbilang gak begitu ramai tapi suasana jadi makin asik dan riuh dibuatnya.
Beberapa lagu yang dibawakan di konser Get Your Heart On! ini semacam konser curcol. Entahlah curcolnya siapa tepatnya hahaha.. coba saja perhatikan lirik You Suck At Love, Your Love Is A Lie, atau Thank You yang ditampilkan berurutan.
Ada juga penampilan Simple Plan bareng vocalis Kotak (Tantri) di lagu Jet Lag, seru dan semua ikut bernyanyi. Tapi sepertinya tim kojak cuma bengong karena gak hapal liriknya.
Old school fans (ini sebutan resmi Pierre lho) gak jadi dibikin garing karena gak ngerti lagu-lagu baru Simple Plan. Ada lagu yang melegenda 10 tahun lalu dibawain juga di konser malam itu: I’d Do Anything, My Alien, Addicted, I’m Just A Kid & Perfect. Baru deh di lagu-lagu ini tim kojak bisa tereak-terak nyanyi hahaha..
Saya pikir bubaran konser usai sudah pengalaman seru malam itu. Ternyata saya salah. Di luar istora ternyata hujan turun dengan derasnya dan tim kojak harus kembali ke Fx. Sambil menunggu reda, tangan mulai terampil mengeluarkan uang dari dompet buat beli makanan dan minuman. Sambil ngobrol gak kerasa menunggu hujan reda hampir satu jam, lumayan lama. Bosen menunggu akhirnya nekat menembus gerimis. Lebih nekat lagi karena mengiyakan ide brilliant Ifan melewati ‘yang katanya’ shortcut menuju Fx. Makin nekat lagi karena masih mengiyakan rayuan Ifan untuk menembus genangan air dengan situasi hujan kembali turun dengan deras. Chika dan Chichi sepertinya harus merelakan sepatunya kebasahan. Semua basah kuyup, semua kedinginan, dan semua sepertinya masuk angin, tapi tetap semangat berkat pengalaman seru malam itu.
Terimakasih KapanLagi.com buat tiket nontonnya, besok konser Il Divo, Dream Theater, Java Jazz, Roxette undang lagi yaaa.. *ngarep banget*
Melati semerbak harum mewangi,
Sebagai penghias di Hari fitri,
SMS ini hadir pengganti diri,
Ulurkan tangan silaturahmi.
Selamat Idul Fitri
————–
Walaupun Hati gak sebening XL Dan secerah MENTARI.
Banyak khilaf yang buat FREN kecewa,
Kuminta SIMPATI-mu untuk BEBAS kan dari ROAMING dosa
Dan Kita semua hanya bisa mengangkat JEMPOL kepadaNya
Yang selalu membuat Kita HOKI dalam mencari kartu AS
Selama Kita hidup karena Kita harus FLEXIbel
Untuk menerima semua pemberianNYA Dan menjalani
MATRIX kehidupan ini…Dan semoga amal Kita tidak ESIA-ESIA…
Mohon Maaf Lahir Bathin.
————–
Saya masih ingat, tiga-empat tahun lalu saya menerima SMS seperti ini langsung dari beberapa teman sekaligus. Terima SMS langsung forward. Gampang dan murah. Sedangkan tahun lalu agak sedikit berbeda. Beberapa teman upload foto berbusana muslim atau gambar ketupat ditambah ucapan puitis selamat lebaran di FB lalu nge-tag berjamaah. Keduanya sama-sama malesin. Males dibaca, males dapet banjir notifikasi FB, males yang itu-itu aja. Dan sama-sama kurang sentuhan personalnya.
Kangen juga masa-masa jaman dulu ketika PT Pos berjaya. Kangen dapet kiriman kartu ucapan yang unik-unik dan kreatif. Kangen nyari ide bikin kartu ucapan buat teman. Kangen pergi ke kantor pos beli perangko. Kangen dapet kiriman pos.
Kalau kamu kangen juga seperti saya, yuk ikutan bikin kartu ucapan selamat lebaran!
Lebaran tahun ini saya berencana membuat kartu pos ucapan lebaran dan akan saya kirimkan buat teman-teman onliners. Nanti kita bertukar kartu pos bikinan sendiri. Gak mesti kartu pos, kartu lebaran biasa yang menggunakan amplop juga tidak dilarang. Kartu ucapan sebaiknya bikin sendiri biar kerasa ‘sentuhan personalnya’. Kalau tidak bisa bikin yah tidak masalah beli kartu ucapan yang siap kirim. Intinya ada sentuhan personal dan menggunakan layanan pos saja sih hehe..
Bagaimana caranya berpartisipasi? Tulis alamat email di kolom komentar, nanti akan saya kirimkan alamat saya dan teman-teman bisa membalas alamat masing-masing untuk saya kirim balik. Gampang kan?
Akhir pekan yang lalu (22-23/7) saya habiskan di Semarang untuk memenuhi undangan dari PT XL Axiata Tbk. Ini kali kedua XL mengundang blogger dan nettizen untuk berpartisipasi dalam uji kesiapan jaringan sebelum Ramadhan tiba dengan tajuk #XLNetRally. Blogger dan nettizen dari Lampung, Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Malang dan Surabaya berkumpul di Semarang. Tapi kali ini perwakilan Lampung dan Malang tidak ada.
Blogger dan nettizen dari Jakarta diberangkatkan ke Semarang menggunakan kereta api eksekutif Argo Bromo Anggrek New Image yang dilengkapi wi-fi dari XL. Ini salah satu bentuk kerja sama XL dengan PT KAI selain penempatan telepon umum gratis (TUG) di beberapa stasiun besar. Benar-benar fasilitas yang membuat penumpang nyaman dan memungkinkan selalu tersambung ke internet atau kerabat.
Bagiku, inti dari pernikahan itu komitmen, sebuah kontrak antara dua orang persona. Tak lebih dari itu. Perasaan dan komitmen itu beda. Bersyukurlah orang yang mendapatkan keduanya dalam sebuah pernikahan.
Aku telah mengecewakan seorang perempuan. Ya, aku masih menyayanginya. Ngobrol lewat telpon, layanan pesan singkat maupun bertemu dengan langsung dengannya masih kurasakan sangat nyaman. She knows how to treat me…
Tapi aku tidak bisa berharap pada ketidakpastian. Aku tidak bisa menggantungkan diri dengan orang yang tidak mau memperjuangkan perasaannya. Aku lelah menjalani sebuah komitmen dengan sembunyi-sembunyi. Aku butuh kepastian. Tak hanya perempuan yang butuh kepastian, laki-laki pun sama.
Aku menyangka selama kami dekat, dia telah berusaha meyakinkan pada orang tua dan keluarganya mengenai aku. Namun itu hanya asumsiku saja. Mungkin secara hasil aku memang masih belum berkorban melakukan apapun untuk memperjuangkan perasaanku. Tapi aku yakin dia tau, nyaris tiap malam aku kebingungan untuk mencari cara supaya bisa memenuhi ekspektasi orang tuanya mengenai laki-laki yang layak menjadi pendamping hidup anaknya.
Aku memang jauh dari ekspetasi orang tuanya mengenai apa itu laki-laki ideal. Bahkan dalam tataran paling minimalpun. Namun aku terus berusaha untuk memenuhi ekspektasi orang tuanya. Bahkan hingga itu membuatku melakukan sesuatu yang aku merasa tidak nyaman sekalipun. Aku cukup berusaha, mungkin hingga berdarah-darah.
Aku memutuskan meninggalkannya untuk sosok perempuan lain. Perempuan yang mau memperjuangkan perasaannya. Aku percaya bahwa perasaan bisa muncul sejalan dengan intensitas komunikasi dan membangun pengertian serta kesepahaman. Dan itu terbukti padaku sekarang.
Perempuan itu kecewa. Sangat kecewa padaku. Aku pikir kesepakatan yang telah kami buat dulu sudah menjadi dasar yang cukup untuk dia sehingga berkenan membuka hati dan berpaling ke orang lain. Namun aku salah. Ternyata dia masih berharap padaku.
Aku salah? Iya. Karena aku tak peka dan aku tetap memberinya harapan disaat aku terengah-engah kehilangan tenaga untuk mewujudkannya serta mulai berpikir untuk berpaling ke lain hati. Aku dibesarkan menjadi orang yang lebih rasionalis. Bagiku kesepakatan adalah dasar dari segalanya. Sebenarnya aku berharap dia yang meninggalkanku untuk laki-laki lain. Namun waktu berkata lain, aku menemukan sosok lain lebih cepat dari apa yang ku perkirakan. Aku tidak bisa berharap pada ketidakpastian.
>> curhat seorang teman yang tidak ingin namanya disebutkan

Sudah lama pengen nonton sendratari ini, tapi baru semalam kesampaian. Tarian yang menceritakan kisah percintaan Rama dan Shinta sesuai dengan kitab Hindu ini dilakukan di panggung terbuka yang megah dengan latar Candi Prambanan. Permainan lampu sorot dan iringan gamelan yang mantap membuat saya betah duduk selama 3 jam. Semalam kebetulan cuaca lumayan cerah, bulan yang hampir bulat utuh makin membuat suasana semakin indah.
Cerita dimulai dengan sayembara dari Prabu Janaka untuk mencari pendamping bagi putrinya Dewi Shinta. Sayembara dimenangkan oleh Rama Putra Mahkota Kerajaan Ayodya. Rupanya kisah cinta Rama-Shinta tidak demikian mulus, ada pihak lain yang menginginkan Shinta yaitu Rahwana. Terjadilah penculikan Shinta yang bergulir pada peperangan.

Kenapa saya tau ceritanya? Karena saya baca panduan jalan cerita ramayana selama pertunjukan berlangsung
Kebetulan juga teman sebelah bangku saya adalah Funkshit yang hapal luar kepala kisah Ramayana. Saya beruntung, kalau gak ngerti bisa tanya-tanya. Sedangkan di seberang bangku saya, kebanyakan siswa SMP luar kota, sudah membosan pada menit ke 45. Melongo gak ngerti apa yang dilihat karena sendratari ini tanpa narasi. Keseringan malah kedapatan mereka lagi nguap. Agak terganggu juga dari suara cekikikan kencang sekitar bangku ketika ada penari yang salah gerak atau salah tingkah.
Antusias menonton justru dari kalangan wisatawan mancanegara. Mengambil kursi kelas VIP yang terletak pas di depan panggung. Duduk tenang, gak bawel. Baca panduan cerita. Dan sopan ketika mengambil foto (tidak menggunakan lampu kilat kamera).

Yang di tengah itu teman saya lho!
Oh ya semalam teman saya ikutan nari jadi Dewi Kayangan lho. Keren deh, sampe pangling
Info lanjut & sumber foto dari borobudurpark

Banyak yang sudah menuliskan kesan mengikuti rangkaian Pesta Blogger+ 2010 Jogja (8-9 Oktober 2010) atau disebut PBjogja. Nah, sekarang giliran saya yang bercerita ya! Sedikit reportase
Suguhan PBjogja tahun ini terdiri dari Rally Panggih Batir (Rally PB), Kelas-kelas unik, Blogshop dan malam gathering. Semua diundang, semua boleh datang dan tidak bayar! Asyik kan?
Rally PB
Acara seru ini diperuntukkan untuk onliners Jogja yang tergabung dalam komunitas. Tujuannya untuk mempererat antar komunitas online dan juga mempelajari ha-hal baru dari komunitas yang tidak berkaitan dengan media online. Selama dua hari onliners Jogja diajak keliling dengan bus. Komunitas yang terlibat antara lain: Cah Andong, Jog-TUG, Bancakan 2.0, Jogja Plurker, Koproler Jogja (Kopijos), #resepmini Jogja, #fiksimini Jogja, #kulineryogya, dan Multiply Jogja. Kunjungan hari pertama adalah Joglo Mlati Resto, Jombor, dan merupakan titik pertemuan antara peserta rally dan tamu-tamu luar kota.
Peserta rally yang baru ketemu (kopdar) awalnya agak malu-malu, namun seiring waktu suasana jadi cair untuk saling berkenalan. Saya pun sekarang tau kalau Cafe 17 yang tersohor seantero Jogja sekarang menjadi base nya Koproler Jogja, dari Mas Ade.
Joglo tua, bangunan-bangunan tribal dan alunan tembang jawa makin membuat rasa eksotis menyeruak. Sebelum peserta rally dilepas oleh Pak Utomo (pemilik resto), Pakde Mbilung dan Mbakdos, peserta rally dimanjakan lidahnya oleh makanan-makanan khas Joglo Mlati yang super enak: soto ayam, gule iga, es cincau dan mendoan pedas! Hufft.. bagian seru ini terpaksa agak terlewat karena saya telat ke meja makan. Beruntung sih masih bisa nyicipin sotonya, soalnya cuma itu yang nyisa!
Saya baru tahu kalau untuk membuktikan sebagai warga negara yang berkelakuan baik (bebas kriminal) sangatlah repot. Pembuktian itu bernama Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) atau dulu lebih dikenal sebagai Surat Keterangan Kelakuan Baik. Jalan panjang mendapatkannya dimulai dari meminta surat pengantar dari RW lalu ke kantor kelurahan untuk meminta surat pengantar yang lain. Selanjutnya menuju Polsek untuk meminta surat rekomendasi SKCK, lalu pergi ke Polres/Poltabes untuk mendapatkan sandi sidik jari dan SKCK yang sebenar-benarnya (akhirnya!).
Makmur. Cukup aneh untuk dijadikan sebuah nama orang, tapi cukup bijiak untuk dipilih sebagai doa. Demikianlah nama lelaki betawi asli itu. Berjumpa dengan sepupu ibuku menjelang tahun 2000 di salah satu kampus di Jakarta.
Badan kecil bukan berarti semangat yang dimiliki Makmur juga kecil. Perjuangan, pengorbanan yang besar telah dilakukannya untuk mendapatkan hati sepupu ibuku itu, sampai jenjang pernikahan. Banyak yang menentang karena perbedaan tingkat ekonomi. Masa sulit itu sudah dilalui.
Mamang dan bibi, begitu panggilanku untuk pasangan Makmur dan sepupu ibu. Aku dan kakak-kakakku cukup dekat dengan mereka, karena usia yang tak terpaut terlalu jauh. Mereka hidup sederhana di rumah perumnas pinggir kota, namun cukup bahagia. Berbagai usaha dilakukan mereka agar nasi bisa ditanak, perapian bisa panas dan dapur tetap berasap. Usaha-usaha untuk meraih terwujudnya doa dari nama. Kemakmuran. Mulai dari berdagang makanan ringan, bekerja di perusahaan farmasi di Jambi, dan terakhir mereka membuka warung kecil-kecilan di Lampung, menjual kebutuhan sehari-hari.
Kemarin ada panggilan buat Makmur untuk mengantarkan air minum kemasan ke salah satu pelanggannya. Dengan motor bebek andalannya, ia melaju tanpa pengaman kepala. Tidak seperti biasanya memang. Ganjil. Tapi bisa dimaklumi karena jarak antar yang dekat.
Keganjilan itu ternyata sebuah pertanda besar. Motor itu ditabrak pengendara labil, anak SMA, yang ugal-ugalan. Makmur dilarikan ke rumah sakit dan mengalami gegar otak. Selama hampir 12 jam Makmur mencoba tersadar.
Pukul 8 kurang 12 malam tadi Makmur akhirnya tersadar dari tidur yang cukup panjang. Sejenak, saat bibi menyentuh tangannya yang kasar. Dan ternyata kali terakhirnya mereka tatap mata. Makmur pergi tadi malam, saat di Jogja turun hujan dengan derasnya. Membasahi hampir seluruh Jogja. Dimana-mana, juga di ujung mataku saat pesan singkat bertuliskan ‘Innalillahi wainnailaihi rojiuun’ masuk ke ponselku.
Selamat jalan mamang, pada saatnya nanti kita pasti berkumpul kembali.
Sepertinya saya baru saja merebahkan tubuh ini di kasur yang hangat setelah sampai tengah malam yang lumayan dingin ikut acara Juminten CahAndong. Telepon genggam sudah berdering-dering sejak semenit sebelumnya. Saya melirik jam dekat tempat tidur, pukul 04:02 dan panggilan dari Choro terus saja memaksa saya untuk sadar dari mimpi. Jempol saya malas-malasan menekan tombol hijau. Dan suara riwil diseberang telpon akhirnya terbenam setelah saya yakinkan Choro 30 menit lagi saya akan benar-benar bangun dari tidur. Bangun pagi hari Sabtu, hal yang amat malas untuk dituruti.
Tapi kalau saya malas-malasan hari itu (07/08/10) bakal ketinggalan atau mungkin tidak dapat mengikuti acara seru di Semarang. Acara yang saya belum yakin agendanya apa saja, tapi sudah kebayang seru bisa kumpul bersama blogger-blogger berbagai daerah. Yang saya tahu adalah rangkaian acara Pesta Blogger 2010 dengan sponsor utama XL.
Tepat jam 5 lewat 10 Kijang Innova mengangkut saya dari mulut gang rumah. Bersama Momon, Choro, Ekowanz dan Anno dari CahAndong, menuju Hotel Gumaya Semarang dari Jogja. Sebenarnya CahAndong diberikan angkutan gratis oleh XL pada hari sebelumnya, tetapi karena terbatasnya kapasitas angkut kami memutuskan untuk berangkat sendiri, biaya sendiri, dan nyamar jadi Semarangan (sebenarnya saya juga anggota Loenpia).
Sebelumnya kami singgah untuk sarapan di Eva Coffee House, Ambarawa, cukup terkenal bagi yang sering hilir mudik Jogja-Semarang. Banyak yang puas dengan kekhasan kopi eva ini, tapi bagi saya cukup sekali saja untuk sarapan di sana. Selain mahal, pelayanan buruk dan rasa biasa saja jadi alasan utama saya untuk kapok.
“send a postcard and receive a postcard back from a random person somewhere in the world!”
Terus terang saya baru 2 bulan bergabung pada project ini, dikenalkan secara tidak sengaja oleh Uthi via twitter. Postcrossing adalah project untuk bertukar kartu pos secara nyata. Nyata yang dimaksudkan adalah wujudnya, bukan kartu pos maya seperti yang kita kenal di internet belakangan ini.
“Kartu pos, emang masih eksis?” begitulah reaksi teman mantan sekantor ketika saya tulis di twitter mendapatkan kartu pos dari Filipina. Saya pun menjawab “saya ingin kartu pos kembali eksis”. Mengingat (kira-kira) 10 tahun yang lalu saya masih berkirim surat dan kartu pos, saya ingin rasa gembira menerima kiriman pos itu terulang kembali.
Pertukaran kartu pos ini tidak terduga kemana akan dikirim dan dari negara mana mendapatkannya. Juga tak diduga bakal dapat kartu pos macam apa. Sampai saat ini kartu pos yang saya terima dan yang paling saya sukai datang dari Jerman, bergambar Kate Beckinsale dalam film Pearl Harbour. Sisi kartu pos bergerigi dengan perangko Brandenburger Tor.
Selain masalah kesenangan mendapatkan kejutan kartu pos, project Postcrossing secara tidak langsung membantu mengenalkan budaya Indonesia ke seluruh dunia. Beberapa anggota Postcrossing ada yang meminta dikirimkan secara langsung kartu pos bergambar Candi Borobudur dan meminta ditempelkan perangko edisi tari-tarian Indonesia. Banyak juga yang sangat berterima kasih karena dikirimkan kartu pos cantik bergambar wayang kulit atau gerabah, yang bagi kita (mungkin) biasa saja.
Incaran saya saat ini adalah kartu pos dari Afganistan dan Greenland




